Bagi
warga Tionghoa, sudah menjadi tradisi menyediakan dodol keranjang, untuk
disantap bersama keluarga sebelum makan nasi pada malam perayaan tahun baru
Imlek/Sin Cia.
Berikut
ini ada 2 versi cerita mengenai dodol imlek :
1.
Versi
Pertama
Dodol
yang bentuknya bulat merupakan lambang keutuhan keluarga, karakternya yang
lengket merupakan simbol kelekatan/kedekatan antar anggota keluarga.
Rasa
manis pun menjadi simbol harapan agar kehidupan mereka selalu “manis”, tidak
ada pertengkaran, rasa cemburu dan lainnya.
Dodol
keranjang juga menjadi simbol kemakmuran dengan cara ditata bertumpuk ke atas
dengan dodol berdiameter paling besar berada di paling bawah. Sebab itu kue
keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil
kue yang disusun itu.
Yang
memberikan makna makin bertambah dalam rezeki atau kemakmuran.
2.
Versi
kedua
Ada
cerita yang mengatakan Dewa Kemakmuran itu kepala depannya ga ada rambut/botak
dan cuma menpunyai sedikit rambut belakang yang dikuncil, uda gitu jalannya
sangat cepat. Makanan yang rasanya manis yang selalu dia cari.
Konon
Dewa Kemakmuran ini setahun cuma muncul sekali, saat dia muncul, orang yang dapat
menangkapnya atau hanya memegangnya, sepanjang tahun akan bejo terus/beruntung
alias hokkie.
Jadi
semua orang ingin memegangnya, namun karena jalannya yang sangat cepat akhirnya
dicarikan ide.
Dodol
sengaja dimasak begitu manis dan lengket, untuk dewa kemakmuran ini. Manis karena
ingin menarik perhatiannya, lengket supaya dia tidak bisa lari lagi.
Demikian
2 versi cerita tentang dodol imlek yang unik.
.jpg)
.jpg)

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar