Halaman

Translate

Jumat, 08 Februari 2013

Arti Dodol Imlek





Bagi warga Tionghoa, sudah menjadi tradisi menyediakan dodol keranjang, untuk disantap bersama keluarga sebelum makan nasi pada malam perayaan tahun baru Imlek/Sin Cia.

Berikut ini ada 2 versi cerita mengenai dodol imlek :

1.    Versi Pertama

Dodol yang bentuknya bulat merupakan lambang keutuhan keluarga, karakternya yang lengket merupakan simbol kelekatan/kedekatan antar anggota keluarga.

Rasa manis pun menjadi simbol harapan agar kehidupan mereka selalu “manis”, tidak ada pertengkaran, rasa cemburu dan lainnya.

Dodol keranjang juga menjadi simbol kemakmuran dengan cara ditata bertumpuk ke atas dengan dodol berdiameter paling besar berada di paling bawah. Sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu.
Yang memberikan makna makin bertambah dalam rezeki atau kemakmuran.

2.    Versi kedua

Ada cerita yang mengatakan Dewa Kemakmuran itu kepala depannya ga ada rambut/botak dan cuma menpunyai sedikit rambut belakang yang dikuncil, uda gitu jalannya sangat cepat. Makanan yang rasanya manis yang selalu dia cari.

Konon Dewa Kemakmuran ini setahun cuma muncul sekali, saat dia muncul, orang yang dapat menangkapnya atau hanya memegangnya, sepanjang tahun akan bejo terus/beruntung alias hokkie.

Jadi semua orang ingin memegangnya, namun karena jalannya yang sangat cepat akhirnya dicarikan ide.

Dodol sengaja dimasak begitu manis dan lengket, untuk dewa kemakmuran ini. Manis karena ingin menarik perhatiannya, lengket supaya dia tidak bisa lari lagi.

Demikian 2 versi cerita tentang dodol imlek yang unik.




Tidak ada komentar: